Senin, 29 April 2013

TERAPI TINGKAH LAKU


NAMA           : DIAH RETNO WULANDARI
NPM               : 11510953
KELAS          : 3PA01

TERAPI TINGKAH LAKU (BEHAVIOR THERAPY)
PENGANTAR
Tokoh utama dalam teknik ini adalah Wolpe, Eysenck, Lazarus, Salter. Suatu model terapi yang merupakan penerapan prinsip-prinsip belajar pada penyelesaian gangguan-gangguan tingkah laku yang spesifik. Hasil-hasilnya merupakan bahan bagi eksperimentasi lebih lanjut. Terapi tingkah laku secara berkesinambungan berada dalam proses penyempurnaan. Berdasarkan teori belajar, modifikasi tingkah laku dan terapi tingkah laku adalah pendekatan-pendekatan terhadap konseling dan psikometri yang berurusan dengan pengubah tingkah laku.
Perkembangan terapi-terapi tingkah laku ditandai oleh suatu pertumbuhan yang fenomenal sejak akhir tahun 1950-an. Pada awal tahun 1960-an, laporan-laporan tentang penggunaan etknik-teknik terapi tingkah laku sekali-sekali muncul dalam kepustakaan profesional. Kini, modifikasi tingkah laku dan terapi tingkah laku menduduki tempat yang penting dalam lapangan psikoterapi dalam banyak area pendidikan.
Dewasa ini, banyak program latihan yang dengan jelas menitikberatkan orientasi behavioral. Kecenderungan ini akan lebih mengesankan apabila kita mengingat bahwa selama akhir 1950-an dan awal tahun 1960-an kesehatan mental yang dengan segala cara substansial melibatkan terapi tingkah laku. Salah satu aspek yang penting dari gerakan modifikasi tingkah laku adalah penekanannya pada tingkah laku yang bisa didefinisikan secara operasional, diamati, dan diukur.

KONSEP-KONSEP UTAMA
Pandangan tentang Sifat Manusia
Behaviorisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkap hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama. Terapi tingkah laku kontemporer bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministik dan mekanistik, yang menyingkirkan potensi para klien untuk memilih. Hanya “para behavioris yang radikal” yang menyingkirkan kemungkinan menentukan diri dari individu.
Terapi tingkah laku berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya, ditandai oleh : (a) pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik, (b) kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment, (c) perumusan peosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah, (d) penaksiran objektif atau hasil-hasil terapi. Terapi tingkah laku tidak berlandaskan sekumpulan konsep yang sistematik, juga tidak berakar pada suatu teori yang dikembangkan dengan baik. Sekalipun memiliki banyak teknik, terapi tingkah laku hanya memiliki sedikit konsep. Pada dasarnya, terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Karena tingkah laku yang dituju dispesifikan dengan jelas, tujuan-tujuan treatment dirinci dan metode-metode terapeutik diterangkan, maka hasil-hasil terapi menjadi dapat dievaluasi.

Tujuan-Tujuan Terapis
Tujuan umum terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh.
Ada beberapa kesalahpahaman yang menyangkut masalah tentang tujuan-tujuan dalam terapi tingkah laku. Salah satu kesalahpahaman yang umum adalah bahwa tujuan terapi semata-mata menghilangkan gejala-gejala suatu gangguan tingkah laku dan bahwa stelah gejala-gejala itu terhapus, gejala-gejala baru akan muncul karena penyebab-penyebab yang mendasarinya tidak ditangani. Kesalahpahaman yang lainnya adalah bahwa tujuan-tujuan klien ditentukan dan dipaksakan oleh terapis tingkah laku.
Krumboltz dan Thorensen (dalam Corey, 2009) mengembangkan tiga kriteria bagi perumusan tujuan yang bisa diterima dalam konseling tingkah laku sebagai berikut : (1) tujuan yang dirumuskan haruslah tujuan yang ingin dicapai oleh klien, (2) konselor harus bersedia membantu klien dalam mencapai tujuan, (3) harus terdapat kemungkinan untuk menaksirkan sejauh mana klien bisa mencapai tujuannya.

Fungsi dan Peran Terapis
Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosa tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive. Krasner (dalam Corey, 2009) mengajukan argumen bahwa peran seorang terapis, terlepas dari analisis teorisnya, sesungguhnya adalah “mesin perkuatan”. Apapun yang dilakukannya, terapis pada dasarnya terlibat dalam pemberian perkuatan-perkuatan sosial, baik yang positif maupun negatif.
Goodstein (dalam Corey, 2009) juga menyebutkan peran terapis sebagai pemberi perkuatan. Peran konselor adalah menunjang perlembangan tingkah laku yang secara sosial layak dengan cara sistematis memperkuat jenis tingkh laku klien semacam itu.

Teknik-Teknik Utama Terapi Tingkah Laku
Desensitisasi Sistematik
Salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi tingkah laku. Desensitisasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau proses yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi diarahkan pada mengajar klien untuk menampilkan suatu respons yang tidak konsisten dengan kecemasan. Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi.
Wolpe (dalam Corey, 2009) telah mengembangkan suatu respons, yakni relaksasi, yang secara fisiologis bertentangan dengan kecemasan yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam. Prosedur model pengondisian balik ini adalah sebagai berikut :
1.      Desensitisasi sistematik dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan, atau suatu fobia.
2.      Selama pertemuan-pertemuan terapeutik pertama klien diberi latihan relaksasi yang terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengenduran otot-otot yang berbeda sampai tercapai suatu keadaan santai penuh.
3.      Proses desentisisasi melibatkan keadaan dimana klien sepenuhnya sanatai dengan mata tertutup. Terapis menceritakan serangkaian situasi dan meminta klien untuk membayangkan dirinya berada dalam setiap situasi yang diceritakan oleh terapis itu.
Desentisisasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia. Selain itu, desentisisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.

Terapi Implosif dan Pembanjiran
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan. Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik-teknik desentisisasi sistematik dalam arti teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengondisian balik maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien.
Stampfl (dalam Corey, 2009) mengembangkan “terapi implosif”. Terapi implosif berasumsi bahawa tingkah laku neurotik melibatan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecamasan. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhapus.

Latihan Asertif
Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang (1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, (2) menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya, (3) memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, (4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lainnya, (5) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur permainan peran. Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpesonal.

Terapi Aversi
Teknik-teknik pengondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.
Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling kontroversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode-metode untuk membawa orang-orang kepada tingkah laku yang diinginkan. Butir yang penting adalah bahwa maksud prosedur-prosedur teknik aversif ialah menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaptif dalam suatu periode sehingga terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternatif yang adaptif dan yang akan terbukti memperkuat dirinya sendiri. Satu kesalahpahaman yang populer adalah bahwa teknik-teknik yang berlandaskan hukuman merupakan perangkat yang paling penting bagi para terapis tingkah laku.

Pengondisian Operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat-alat makanan, bermain, dan sebagainya. Terdapat metode-metode yang lain dalam pengondisian operan :
·         Perkuatan positif
Pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkuat-pemerkuat, baik primer maupun sekunder, diberikan untuk rentang tingkah laku yang luas. Pemerkuat-pemerkuat primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh pemerkuat primer adalah makanan dan tidur atau istirahat. Contoh pemerkuat sekunder adalah senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas, medali atau tanda penghargaan, uang dan hadiah-hadiah.
·         Pembentukan respons
Dalam pembentukan respons, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak dapat dalam perbendaharaan tingkah laku individu.
·         Perkuatan intermiten
Disamping membentuk perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memelihara tingkah laku yang telah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul. Oleh karenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Perkuatan intermiten diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik. Tingkah laku yang dikondisikan oleh perkuatan intermiten pada umumnya lebih tahan terhadap penghapusan dibanding dengan tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus menerus.
·         Penghapusan
Apabila suatu respons terus menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Terapis, guru, dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai teknik utama dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tidak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi.
·         Pencontohan
Dalam pencontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model.
·         Token economy
Metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuari dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak bisa memberikan pengaruh. Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (tanda-tanda seperti kepingan logam) yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini.



Sumber : Sumber : Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Minggu, 21 April 2013

TERAPI RASIONAL-EMOTIF


NAMA           : DIAH RETNO WULANDARI
NPM               : 11510953
KELAS          : 3PA01

TERAPI RASIONAL-EMOTIF
PENGANTAR
Pendiri terapi rasional-emotif adalah Albert Ellis. Suatu model terapi yang sangant didaktik, berorientasi kognitif tindakan, serta menekankan peran pemkiran dan sistem-sistem kepercayaan sebagai akar masalah-masalah pribadi. Terapi rasional-emotif (TRE) lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi kognitif-tingkah-laku-tindakan dalam arti menitik beratkan berpikir, menilai, memutuskan, menganalisa, dan bertindak. Konsep-konsep TRE membangkitkan sejumlah pertanyaan, yaitu:
·         Apakah pada dasarnya psikoterapi merupakan suatu proses redukasi?
·         Apakah sebaiknya terapis berfungsi terutama sebagai guru?
·         Apakah pantas para terapis menggunakan propaganda, persuasi, dan saran-saran yang sangat direktif?
·   Sampai mana keefektifan usaha membebaskan para klien dari “keyakinan-keyakinan irasional”-nya dengan menggunakan logika, nasihat, informasi, dan penafsiran-penafsiran?

KONSEP-KONSEP UTAMA
Pandangan tentang Sifat Manusia
TRE adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. TRE menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Bagaimanapun, menurut TRE, manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan drinya sendiri ataupun orang lain.
TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimultan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas situasi yang spesifik. Tentang sifat manusia, Ellis (dalam Corey, 2009) menyatakan bahwa baik pendekatan psikoanalitik Freudian maupun pendekatan eksistensial telah keliru dan bahwa metodologi-metodologi yang dibangun atas kedua sistem psikoterapi tersebut tidak efektif dan memadai.

Tujuan-Tujuan Terapis
Ellis (dalam Corey, 2009) menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam TRE yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu: “meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang realistik”. Tujuan utama psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri mereka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka.
TRE tidak diarahkan semata-mata penghapusan gejala, tetapi untuk mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar. TRE bergerak keseberang penghapusan gejala, dalam arti tujuan utama proses terapeutiknya adalah membantu klien untuk membebaskan dirinya sendiri dari gejala-gejala yang dilaporkan dan yang tidak dilaporkan kepada terapis.
Ringkasnya, proses terapeutik ini terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbahagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya, sebagian besar adalah proses belajar-mengajar.

Fungsi dan Peran Terapis
TRE dilaksanakan dengan satu maksud utama, yaitu: membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyakinan-keyakinan dagmatis yang irasional dan takhyul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.
Terapis memiliki tugas-tugas yang spesifik. Langkah pertama adalah menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan bagaiman klien mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya, dan menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukkan banyak “keharusan”, “sebaiknya” dan “semestinya”.
Langkah yang kedua adalah membawa klien ke seberang tahap kesadaran dengan menunjukkan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosional untuk tetap aktif dengan terus menerus berpikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang kalimat-kalimat yang mengalahkan diri dan yang  mengekalkan pengaruh masa kanak-kanak. Langah ketiga berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya da meninggalkan gagasan-gagasan irasionalnya. Langkah terakhir dalam proses terapeutik adalah menantang klien untuk mengembangkan filsafat-filsafat hidup yang rasional sehingga dia bisa menghindari kemungkinan menjadi korban keyakinan-keyakinan yang irasional. TRE pada dasarnya adalah suatu proses terapeutik kognitif dan behavioral yang aktif-direktif, TRE sering meminimalkan hubungan yang intens antara terapis dan klien.

PENERAPAN : TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK
Teknik-Teknik dan Prosedur-Prosedur Utama TRE
Ellis (dalam Corey, 2009) berpendapat TRE menandaskan bahwa orang-orang bisa mengalami perubahan melalui banyak jalan yang berbeda seperti memiliki pengalaman-pengalaman hidup yang berarti, belajar tentang pengalaman-pengalaman, orang lain, memasuki hubungan dengan terapis, menonton film, mendengarkan rekaman-rekaman, mempraktekkan pekerjaan rumah yang spesifik, melibatkan diri kedalam korespondensi melalui saluran-saluran TRE, menghabiskan waktu sendirian untuk berpikir dan bermeditasi, dan dengan banyak cara lain untuk menentukan perubahan kepribadian yang tahan lama.
Teknik TRE yang esensial adalah mengajar secara aktif-direktif. Segera setelah terapi dimulai, terapis memainkan peran sebagai pengajar yang aktif untuk mereedukasi klien. TRE adalah suatu proses didaktik dan karenanya menekankan metode-metode kognitif. Penggunaan metode-metode terapi tingkah laku seperti pelaksanaan pekerjaan rumah, desensitiasi, pengondisian operan, hipnoterapi, dan latihan asertif cenderung dilakukan secara aktif-direktif di mana terapis lebih banyak berperan sebagai guru dibandingkan sebagai pasangan yang erelasi secara intens.

Penerapan pada  Terapi Individual
TRE yang diterapkan pada penanganan seseorang kepada seseorang pada umumnya dirancang sebagai terapi yang relatif singkat. Ellis (dalam Corey, 2009) menyatakan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan-gangguan emosional yang berat sebaiknya menjalani terapi individual maupun kelompok dalamperiode tujuh bulan sampai satu tahun agar mereka memiliki kesempatan untuk mempraktekan apa yang sedang mereka pelajari.
Klien mulai dengan mendiskusikan masalah-masalah yang paling menekankan dan menjabarkan perasaan-perasaan yang paling membingungkan dirinya. Kemudian terapis mencari peristiwa-peristiwa pencetus yang mengakibatkan perasaan-perasaan yang membingungkan itu. Terpis juga mengajak klien untuk melihat keyakinan-keyakinan irasional yang diasosiasikan dengan kejadian-kejadian pencetus dan mengajak klien untuk mengatasi keyakinan-keyakinan irasionalnya dengan menugaskan kegiatan-kegiatan pekerjaan rumah yang akan membantu klien untuk secara langsung melumpuhkan gagasan-gagasan irasionalnya itu serta membantu klien dalam mempraktekan cara-cara hidup yang lebih rasional.
Penerapan pada Terapi Kelompok
TRE sangat cocok untuk diterapkan pada terapi kelompok karena semua anggota diajari untuk menerapkan prinsip-prinsp TRE pada rekan-rekannya dalam setting kelompok. Mereka memperoleh kesempatan untuk mempraktekan tingkah laku-tingkah laku baru yang melibatkan pengambilan-pengambilan risiko dan untuk pelaksanaan tugas pekerjaan rumah. Ellis (dalam Corey, 2009) mengembangkan suatu bentu terapi kelompok yang dikenal dengan nama A Weekend of Rational Encounter yang memanfaatkan metode-metode dan prinsip-prinsip TRE.
TRE memiliki beberapa keterbatasan. Karena pendekatan ini sangat didaktik, terapis perlu mengenal dirinya sendiri dengan baik dan hati-hati agar tidak hanya memaksakan filsafat hidupnya sendiri kepada para kliennya. Terapis TRE mengetahui kapan dia harus dan kapan dia tidak boleh “mendorong” klien. Seorang terapis bisa keliru menggunakan TRE dengan menyempitkan TRE menjadi pemberian metode-metode penyembuhan kilat, yakni dengan menyampaikan kepada para klien apa yang salah dan bagaimana mereka harus mengubahnya.





Sumber : Sumber : Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.


Minggu, 14 April 2013

ANALISIS TRANSAKSIONAL


NAMA           : DIAH RETNO WULANDARI
NPM               : 11510953
KELAS          : 3PA01

ANALISIS TRANSAKSIONAL
PENGANTAR
Pendiri dari terapi transaksional adalah Eric Berne. Suatu model terapi kontemporer yang cenderung ke arah aspek-aspek kognitif dan behavioral, dan dirancang untuk membantu orang-orang dalam mengevaluasi putusan-putusan yang telah dibuatnya menurut kelayakannya. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak. Teori Berne menggunakan beberapa kata utama, yaitu orang tua, orang dewasa, anak, putusan, putusan ulang, permainan, skenario, pemerasan, dicampuri, pengabaian dan ciri khas.
Analisis Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi kelompok. AT berbeda dengan sebagian besar terapi lain karena merupakan suatu terapi kontraktual dan desisional. AT melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses terapi. AT juga berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. AT menekankan aspek-aspek kogntif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat keputusan-keputusan dan mengubah cara hidupnya. AT berasumsi bahwa orang-orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir dan memutusakan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya.

KONSEP-KONSEP UTAMA
Pandangan tentang Sifat Manusia
AT berakar pada suatu filsafat yang antideterministik serta menekankan bahwa manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemograman awal. AT berpijak pada asumsi-asumsi bahwa orang-orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan bahwa orang-orang mampu memilih dan memutuskan ulang. AT meletakkan kepercayaan pada kesanggupan individu untuk tampil diluar pola-pola kebiasaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.
Haris (dalam Corey, 2009) sepakat bahwa manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak terbelenggu oleh masa lampaunya. Terapis mengakui bahwa alasan mengapa seseorang berada dalam terapi adaah karena dia ingin memasuki persengkongkolan dan memainkan permainan dengan orang lain. Bagaimanapun, terapis tidak mendukung pengembangan hubungan persengkongkolan dalam terapi.

Perwakilan-Perwakilan Ego
AT adalah suatu sistem terapi yang berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego yang terpisah, yaitu :
1.      Orang tua
Adalah bagian kepribadian yang merupakan introyeksi dari orang tua atau dari subtitut orang tua. Jika ego orang tua dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan oleh kita adalah perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa dan bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaan dan tindakan orang tua kita terhadap diri kita. Ego orang tua berisi perintah “harus” dan “semestinya”. Orang tua dalam diri kita bisa “orang tua pemelihara” atau “orang tua pengritik”.
2.      Ego orang dewasa
Adalah pengolahan data dan informasi yang merupakan bagian objektif dari kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego orang dewasa menghasilkan pemecahan yang paling baik bagi masalah orang tertentu.
3.      Ego anak
Berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, dan tindakan-tindakan spontan. “Anak” yang ada dalam diri kita berupa “Anak Alamiah”, “Profesor Cilik”, atau berupa “Anak yang Disesuaikan”. Anak Alamiah adalah anak yang impulsif, tak terlatih, spontan dan ekspresif. Profesor Cilik adalah kearifan yang asli dari seorang anak. Anak yang disesuaikan menunjukkan suatu modifikasi dari Anak Alamiah. Modifikasi-modifikasi dihasilkan oleh pengalaman-pengalaman traumatik, tuntutan-tuntutan, latihan, dan ketetapan-ketetapan tentang bagaimana caranya memperoleh belaian.

Tujuan-Tujuan Terapis
Tujuan dasar Analisis Transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah dengan mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan-putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan deterministik. Inti terapi adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan yang manipulatif dan oleh skenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
Harris (dalam Corey, 2009) tujuan AT adalah untuk membantu individu agar "memiliki kebebasan memilih, kebebasan mengubah keinginan, kebebasan mengubah respon-respon terhadap stimulus-stimulus yang lazim maupun yang baru". Pemulihan berlandaskan pengetahuan tentang ego orang tua dan ego anak serta tentang bagaimana kedua ego itu memasuki transaksi-transaksi sekarang. Tujuan terapeutik dicapai dengan mengajarkan kepada klien dasar-dasar ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anak.
Berne (dalam Corey, 2009) tujuan utama AT adalah pencapaian otonomi yang diwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakteristik, yaitu kesadaran, spontanitas, dan keakraban. Selain itu, menurut James dan Jongeward (dalam Corey, 2009) melihat pencapaian otonomi sebagai tujuan utama AT, yang bagi mereka berarti "mengatur diri, menentukan nasib sendiri, memikul tanggung jawab atas tindakan-tindakan dan perasaan-perasaan sendiri, serta membuat pola-pola yang tidak relevan dan tidak pantas bagi kehidupan di sini dan sekarang".

Fungsi dan Peran Terapis
Harris (dalam Corey, 2009) melihat peran terapis sebagai seorang "guru, pelatih, dan narasumber dengan penekanan kuat pada keterlibatan". Sebagai guru, terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisi struktural, analisis transaksional, analisis skenario, dan analisis permainan. Terapis membantu klien menemukan kondisi-kondisi masa lampau yang merugikan yang meyebabkan klien membuat putusan-putasan dini tertentu, memungut rencana-rencana hidup, dan mengembangkan strategi-strategi yang telah dipertimbangkannya.
Sebagian besar teoris AT menekankan pentingnya hubungan yang setaraf antara terapis dan klien dan menunjuk kepada kontrak terapi sebagai bukti bahwa terapis dan klien adalah pasangan dalam proses-proses terapi. Oleh karena itu, tugas terapis adalah menggunakan pengetahuannya untuk menunjang klien dalam hubungannya dengan suatu kontrak spesifik yang jelas yang diprakarsai oleh klien. Tugas terapis pada dasarnya adalah membantu agar klien memperoleh perangkat yang diperlukan bagi perubahan.

PENERAPAN : TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK
Penerapan pada Kelompok
Konsep-konsep dan Analisi Transaksional cocok terutama untuk situasi-situasi kelompok. AT pada mulanya direncanakan sebagai suatu bentuk treatment kelompok dan prosedur-prosedur terapeutiknya memberikan hasil dalam setting kelompok. Dalam setting kelompok, orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain yang memberikan kepada mereka model-model bagi peningkatan kebebasan memilih. Interaksi dengan anggota-anggota kelompok lain memberikan kepada mereka kesempatan-kesempatan yang luas untuk melaksanakan tugas-tugas dan memenuhi kontrak. Transaksi-transaksi dalam kelompok memungkinkan para anggota mampu meningkatkan keadaan, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. Treatment atas individu-individu dalam kelompok adalah memilih metode Analisis Transaksional.

Prosedur-Prosedur Terapeutik
Dalam praktek AT, teknik-teknik dari berbagai sumber, terutama dari terapi Gestalt digunakan. James dan Jongeward (dalam Corey, 2009) menggabungkan konsep-konsep dan proses-proses AT dengan eksperimen-eksperimen Gestalt. Sebagian besar metode dan proses terapeutik AT ini bisa diterapkan pada terapi individual maupun pada terapi kelompok. Dengan pendekatan gabungan itu, ia mendemonstrasikan peluang yang lebih besar untuk mencapai kesadaran diri dan otonomi. Bagaimanapun, kelompok adalah wahana yang penting bagi perubahan pendidikan dari terapeutik dalam praktek AT.







Sumber : Sumber : Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Sabtu, 30 Maret 2013

PERSON CENTER THERAPY

NAMA           : DIAH RETNO WULANDARI
NPM               : 11510953
KELAS          : 3PA01
Person Center Therapy
  Person center therapy atau bisa disebut client-centered therapy merupakan terapi yang diciptakan oleh Carl Rogers. Semula adalah pendekatan nondirektif yang dikembangkan pada tahun 1940-an sebagai reaksi melawan pendekatan psikoanalitik. Berlandaskan pada pandangan  subjektif atas pengalaman manusia, terapi client-centered menaruh kepercayaan yang lebih besar kepada klien dalam menangani berbagai permasalahan. Hubungan terapeutik antara terapis dan klien merupakan katalisator bagi perubahan; klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.
Rogers menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia tersosialisasi dan bergerak ke muka, berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam. Pandangan tentang manusia yang posittif ini memiliki implikasi-implikasi yang berarti bagi para praktik terapi ini. Model terapi person center menolak konsep yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan yang memandang klien sebagai manusia pasif yang hanya mengikuti perintah-perintah terapis. Terapi ini berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat putusan-putusan.

CIRI-CIRI PENDEKATAN PERSON CENTER
Rogers (dalam Corey, 2009) menguraikan ciri-ciri yang membedakan pendekatan person center dengan pendekatan-pendekatan lain. Pendekatan person center atau client-centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Pendekatan client-centered menekankan dunia fenomenal klien, yaitu dengan empati dan usaha untuk memahami klien. Dengan empati yang cermat dan usaha untuk memahami kerangka acuan internal klien, terapis memberikan pelatihan terutama pada persepsi-diri klien dan persepsinya terhadap dunia.
Prinsip-prinsip terapi client-centered atau person center diterapkan pada individu yang fungsi psikologisnya berada pada taraf yang relatif nomal maupun pada individu yang derajat penyimpangan psikologisnya lebih besar. Terapi client-centered memasukkan konsep bahwa fungsi terapis adalah tampil langsung dan bisa dijangkau oleh klien serta memusatkan perhatian pada pengalaman disini-dan-sekarang yang tercipta melalui hubunagan antara klien dan terapis. Terapi client-centered bukanlah sekumpulan teknik, juga bukan suatu dogma.

TUJUAN-TUJUAN TERAPEUTIK
Tujuan dasar terapi ini adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha untuk membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan terapeutik tersebut, terapis perlu mengusahakan agar klien bisa memahami hal-hal yang ada dibalik topeng yang dikenakannya. Rogers (dalam Corey, 2009) menguraikan ciri-ciri orang yang bergerak ke arah menjadi tambah teraktual sebagai berikut.
1.      Keterbukaan pada pengalaman.
2.      Kepercayaan terhadap organisme sendiri.
3.      Tempat evaluasi internal.
4.      Kesediaan untuk menjadi suatu proses.
Terapis tidak memilih tujuan-tujuan yang khusus bagi klien. Tonggak terapi ini adalah anggapannya bahwa klien dalam hubungannya dengan terapis yang menunjang, memiliki kesanggupan untuk menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuannya sendiri.

TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK
Rumusan-rumusan yang lebih dini dari pandangan Rogers tentang psikoterapi memberi penekanan yang lebih besar pada teknik-teknik. Perkembangan pendekatan ini disertai oleh peralihan dari penekanan pada teknik-teknik terapeutik kepada penekanan pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, dan sikap-sikap terapis, serta pada hubungan terapeutik. Dalam kerangka client-centered, “teknik-teknik”-nya adalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan, respek, dan pengertian, serta berbagai upaya klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan, dan mengeksplorasi. Teknik-teknik harus menjadi suatu pengungkapan yang jujur dari terapis, dan tidak bisa dignakan secara sadar diri sebab terapis tidak akan menjadi sejati.

SUMBANGAN-SUMBANGAN PENDEKATAN CLIENT-CENTERED
Pendekatan client-centered corak dominan yang digunakan dalam pendidikan konselor. Terapi client-centered menitikberatkan mendengar aktif, memberikan respek pada klien, memperhitungkan kerangka acuan internal klien, dan menjalin kebersamaan dengan klien yang merupakan kebalikan dari menghadapi klien dengan penafsiran-penafsiran. Para terapis ini merefleksikan isi dan perasaan-perasaan, menjelaskan pesan-pesan, membantu para klien untuk memeriksa sumbernya sendiri, dan mendorong klien untuk menemukan cara pemecahannya sendiri. Terapi ini jauh lebih aman dibaningkan dengan model-model terapi lain.
Pendekatan person center dengan berbagai cara memberikan sumbangan-sumbangan kepada situasi-situasi konseling individual maupun kelompok. Terapi ini memberikan landasan humanistik bagi usaha memahami dunia subjektif klien, memberikan peluang yang jarang kepada klien untuk sungguh-sungguh didengar dan mendengar. Pendekatan person center menyajikan kepada klien umpan balik langsung dan khas dari apa yang baru dikomunikasikannya. Rogers bersedia mendudukkan rumusan-rumusannya sebagai hipotesis-hipotesis yang dapat diuji dan mempersembahkannya kepada upaya-upaya penelitian.
Teori Rogers tentang terapi dan perubahan kepribadian memiliki efek heuristik yang luar biasa dan meskipun banyak konteroversi yang muncul di sekitar pendekatan person center, karya Rogers telah menantang para praktisi dan teoritis untuk menguji gaya terapeutik dan keyakinan-keyakinan mereka sendiri. Teori client-centered tidak terbatas pada psikoterapi. Teorinya memiliki implikasi-implikasi bagi pendidikan, bisnis, industri, dan hubungan internasional.

BERBAGAI KETERBATASAN TERAPI CLIENT-CENTERED
Kelemahan pendekatan ini adalah terletak pada cara sejumlah praktisi menyalahtafsirkan atau menyederhanakan sikap-sikap sentral dari posisi client-centered. Adanya jalan yang menyebabkan sejumlah praktisi menjadi terlalu berpusat pada klien sehingga mereka sendiri kehilangan rasa sebagai pribadi yang unik. Orang bisa memiliki kesan bahwa terapi client-centered tidak lebih pada teknik mendengar dan merefleksikan.
Terapi client-centered berlandaskan sekumpulan sikap yang dibawa oleh terapis ke dalam pertemuan dengan kliennya dan lebih dari kualitas lain yang manapun, kesejatian terapis menentukan kekuatan hubungan terapeutik. Keontetikan dan keselarasan terapis demikian vital sehingga terapis yang berpraktek dalam kerangka client-centered harus wajar dalam bertindak dan harus menemukan suatu cara mengungkapkan reaksi-reaksinya kepada klien.

Sumber : Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Sabtu, 23 Maret 2013

TERAPI HUMANISTIK-EKSISTENSIAL


NAMA                       : DIAH RETNO WULANDARI
NPM                           : 11510953
KELAS                      : 3PA01

TERAPI HUMANISTIK-EKSISTENSIAL
            Pendekatan humanistik-eksistensial atau bisa disebut eksistensial-humanistik, menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Banyak ahli psikologi yang berorientasi eksistensial yang mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku manusia pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu pengetahuan alam. Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan. Pendekatan eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofi yang melandasi terapi.
Salah satu kritik terhadap pendekatan ini dalam praktik adalah bahwa terapi ini tidak memiliki pernyataan yang sistematis mengenai prinsip-prinsip dan praktek-praktek psikoterapis. Pendekatan ini paling sering dikritik kelemahannya dalam metodologi. Tetapi, Greening (dalam Corey, 2009) mengatakan bahwa : Humanisme eksistensial sebagai suatu orientasi psikologi menggabungkan aspek-aspek eksistensialisme dan humanisme dengan cara membuktikan sumbangan-sumbangan keduanya sambil mencoba menghindari kekurangan-kekurangannya. Jadi, humanisme eksistensial lebih meyakinkan dibandingkan banyak eksistensialisme, namun lebih mengenal keterbatasan dan keniscayaan aktualisasi diri manusia dibandingkan dengan para humanis yang terpusat pada kesenangan dan pertumbuhan. Humanisme eksistensial mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan absurditas, keniscayaan, keputusasaan, dan “keterlemparan” manusia ke dalam dunia tempat dia sendiri bertanggung jawab atas pemenjadiannya. Humanisme eksistensial juga mencakup dalil humanistik bahwa manusia memiliki potensi yang besar untuk mentransformasikan dirinya sendiri sebagai suatu dorongan yang tidak bisa ditekan kepada pengalaman pemenuhan dalam menguji batas-batas potensi itu terhadap hambatan-hambatan yang inheren pada keberadaannya.

PANDANGAN TENTANG SIFAT MANUSIA
Psikologi eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia, terutama suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan eksistensial-humanistik tidak mengecilkan manusia menjadi kumpulan naluri ataupun hasil pengkondisian. Pendekatan ini bukan suatu aliran terapi, bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik.

TUJUAN-TUJUAN TERAPEUTIK
            Terapi ini bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah memperluas kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya. Selain itu, juga bertujuan untuk membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubung dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.
Dalam mencapai tujuan dari terapi ini, dibutuhkan peran serta fungsi dari terapis. Tugas utama terapis adalah berusaha mamahami klien sebagai ada dalam dunia. Teknik yang digunakan mengikuti alih-alih mendahului pemahaman. Karena menekankan pemahaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metode-metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien satu kepada klien lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama. Dikalangan terapis eksistensial dan humanistik ada kesepakatan menyangkut tugas-tugas dan tanggung jawab terapis.

TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK
Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur terapeutik bisa dipungut dari beberapa pandekatan terapi lainnya. Metode-metode yang berasal dari terapi Gestalt dan Analisis Transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial-humanistik.
Bugental dalam bukunya The Search for Authenticity (1965) menunjukkan bahwa konsep inti pskoanalisis tentang resistensi dan transferensi bisa diterapkan dalam filsafat dan praktek terapi eksistensial. Rollo May (dalam Corey, 2009) seorang psikoanalisis Amerika, juga telah mengintegrasikan metodologi dan konsep-konsep psikoanalisis ke dalam psikoterapi eksistensial.
Menurut Corey (2009), meskipun pendekatan eksistensial-humanistik memiliki banyak hal yang bisa diberikan kepada klien yang fungsi psikologis dan fungsionalnya relatif tinggi, pendekatan eksistensial-humanistik ini amat terbatas penerapannya pada para klien yang fungsinya rendah, pada para klien yang berada dalam keadaan krisis, dan pada para klien yang miskin. Para klien yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok untuk memelihara kelangsungan hidupnya dan yang tidak berminat pada aktualisasi diri atau makna-makna eksistensial, kurang tepat untuk ditangani melalui terapi eksistensial-humanistik.

Sumber : Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Minggu, 17 Maret 2013

TEORI PSIKOANALISA


TERAPI PSIKOANALISA

Tokoh yang paling terkenal dari teori psikoanalisa atau psikoanalitik adalah Sigmund Freud. Psikoanalisa dapat dipandang sebagai teori kepribadian ataupun metode psikoterapi. Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi. Sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik mencangkup : (1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaran penderitaan manusia; (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar; (3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa; (4) Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan-kecemasan; (5) Pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi.

STRUKTUR KEPRIBADIAN
            Struktur kepribadian terdiri atas tiga sistem, yaitu id, ego dan superego. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial.
Id
            Id adalah sistem kepribadian yang orisinil. Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa menoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu segera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Dengan diatur oleh asas kesenangan yang diarahkan pada pengurangan tegangan, penghindar dari kesakitan, dan perolehan kesenangan, id bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan: memuaskan kebutuhan-kebutuhan naluriah sesuai dengan asa kesenangan.
Ego
            Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Tugas utama ego adalah mengantarai naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan. Ego adalah tempat bersemayam inteligensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari id. Id hanya mengenal kenyataan subjektif, ego membedakan bayangan-bayangan mental dengan hal-hal yang terdapat didunia eksternal.
Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal alih-alih hal yang riel, dan mendorong bukan kepada kesenangan, melainkan kepada kesempurnaan. Superego merepresentasikan nilai-nilai tradisional dan ideal-ideal masyarakat yang diajarkan oleh orangtua kepada anak.

TUJUAN-TUJUAN TERAPEUTIK
            Tujuan terapi psikoanalitik adalah membantu kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi efektif dari upaya menjadikan ketaksadaran diketahui.

TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK
            Teknik-teknik pada terapi psikoanalitik disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, dan untuk memahami makna berbagai gejala.
Asosiasi Bebas
            Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Katarsis hanya menghasilkan peredaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan yang dialami klien, tidak memainkan peran utama dalam proses treatment psikoanaltik kontemporer; katarsis mendorong klien untuk menyalurkan sejumlah perasaannya yang terpendam, dan karenanya meratakan jalan bagi pencapaian pemahaman.
Selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas analis adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung di dalam ketaksadaran. Urutan asosiasi-asosiasi membimbing analis dalam memahami hubungan-hubungan yang dibuat oleh klien diantara peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Penghalangan-penghalangan atau pengacuan-pengacuan oleh klien terhadap asosiasi-asosiasi merupakan isyarat bagi adanya bahan yang membangkitkan kecemasan. Analis menafsirkan bahan itu dan menyampaikannya kepada klien, membimbing klien kearah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang mendasarinya, yang tidak disadari oleh klien.
Penafsiran
            Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. fungsi penafsiran-penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalanginya bahan tak sadar pada pihak klien. Penafsiran-penafsiran harus tepat waktu, penafsiran harus disajikan pada saat gejala yang hendak ditafsirkan itu dekat dengan kesadaran klien.
Analisis Mimpi
            Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, dan perasaan-perasaan yang direpresi muncul ke permukaan. Sebeb melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan.
            Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang merupakan isi laten ditransformasikan isi manifes yang lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi isi laten ke dalam isi manifes yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat pada isi manifes mimpi.
Analisis dan Penafsiran Resistensi
Resistensi, sebuah konsep yang fundamental dalam praktek terapi psikoanalitik, adalah sesuatu yang melawan kelangsunagn terapi dan mencegah klien memukakan bahan yang tak disadari. Selama asosiasi bebas atau asosiasi kepada mimpi-mimpi, pasien bisa menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pemkiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang direpresi itu.
Resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien. Penafsiran analis atas resistensi ditunjukkan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi sehingga dia bisa menanganinya. Analis harus membangkitkan perhatian klien dan menafsirkan resistensi-resistensi yang paling kentara guna mengurangi kemungkinan klien menolah penafsiran dan guna memperbesar kesempatan pada klien untuk mulai melihat tingkah laku resistifnya.
Analisis dan Penafsiran Transferensi
            Analisis transferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembalai masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi-fiksasi dan deprivasi-deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien mampu menembus: konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga sekarang dan yang menghambat pertumbuhan emosionalnya. Efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan, dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeuti dengan analis.

Sumber :
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama