Nama : Diah Retno Wulandari
NPM : 11510953
Kelas : 3PA01
Transmisi Budaya dan Perkembangan Individu
A. Transmisi Budaya Melalui Enkulturasi
Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses
mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikap individu dengan sistem
norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini
berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan
yang lebih besar (masyarakat). Dalam buku ini diceritakan ketika mereka
berkomunikasi, awalnya mengalami kesulitan. Kemudian bangsa eropa
menyederhanakan tata bahasa dan kosakata mereka, dengan harapan dapat
berkomunikasi dengan penduduk asli. Sebaliknya, penduduk asli juga berusaha
untuk mempermudah system bahasanya agar bangsa eropa (pendatang) dapat memahami
mereka. Hal ini mengakibatkan kedua belah pihak dapat berkomunikasi, namun
secara terpatah-patah.
B. Awal Perkembangan dan Pengasuhan
Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam
hal transmisi budaya melalui masa remaja. Remaja adalah waktu manusia berumur
belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi
tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia
dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak
dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Pada dasarnya remaja memiliki semangat yang
tinggi dalam aktivitas yang digemari. Mereka memiliki energi yang besar, yang
dicurahkannya pada bidang tertentu, ide-ide kreatif terus bermunculan dari
pikiran mereka. Selain itu, remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap
hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya,
mereka cenderung menggunakan metode coba-coba. Sebagai contoh, ketika
berkembang sistem belajar yang menyenangkan atau disebut Quantum Learning,
remaja cenderung mencoba hal tersebut. Namun hal ini tidak terbatas hanya pada
budaya yang bersifat positif, tapi juga pada budaya negatif. Misalnya, ketika
berkembang budaya “clubbing” di kota-kota besar, sebagian besar remaja marasa
tertarik untuk mencoba, sehingga ketika sudah merasakan kelebihannya, perbuatan
itu terus dilakukan.
Selanjutnya yang kedua ialah faktor eksternal.
Keluarga berperan penting dalam membimbing remaja untuk menentukan yang baik
atau tidak untuk dilakukan. Orang tua memegang peranan utama didalam sebuah
keluarga. Segala tindakanya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik
dan psikis anak. Remaja dengan orang tua yang memperhatikan mereka cenderung
dapat memilah pergaulan yang berdampak positif atau negatif bagi mereka.
Kemudian, lingkungan turut mempengaruhi pergaulan.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Remaja
seharusnya dapat memilah dan menyaring perkembangan budaya saat ini, jangan
menganggap semua pengaruh yang berkembang saat ini semuanya baik, karena belum
pasti budaya barat tersebut diterima dan dianggap baik oleh Budaya Timur kita.
C. Perkembangan Moral
Perkembangan sosial merupakan proses
perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam
berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi
hingga akhir hayat. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self
(pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa
dan budaya. Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan
moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam
bertingkah laku sosial. Seorang siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu
secara memadahi apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang
diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan.
Proses perkembangan sosial dan moral selalu
berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan
sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar
sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat.
Hal ini bermakna bahwa proses belajar sangat menentukan kemampuan siswa dalam
bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral, agama, moral
tradisi, moral hukum, dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat.
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari
ungkapan bahasa latin yaitu mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan
mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan
bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu
perbuatan.
Tokoh yang membahas mengenai moral yaitu Kohlberg
(Orang kultur Barat yang terdidik, elit, berkulit putih, dan pria) memandang
otonomi dan keadilan individu sebagai nilai moral yang utama. Ia bahkan
menyamakan moralitas dengan keadilan (dengan mengabaikan nilai moral lain
seperti keberanian, pengendalian-diri, empati, dll.). Para anggota kelas
pekerja dan kelas pedesaan, bagaimanapun, cenderung untuk memiliki pendekatan
yang lebih komunitarian terhadap hidup. Namun ada tokoh lain yang mengeritik
Kohlberg salah satunya dalam hal budaya. Berkritik pemahaman moral lebih
bersifat budaya dan sistem penilaian Kohlberg tidak mengenali pemahaman moral
yang lebih tinggi pada kelompok budaya tertentu. Contoh pemahaman moral yang
tidak diukur oleh system Kohlberg adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan
kesetaraan komunal dan kebahagiaan kolektif seperti di Israel, kemanunggalan
dan kekeramatan segala aspek kehidupan di India. Kohlberg tidak bisa mengukur
hal-hal tersebut diatas karena teori kohlberg tidak menekankan hak individu dan
prinsip-prinsip abstrak tentang keadilan. Kesimpulan, pemahaman moral lebih
dibentuk oleh nilai dan keyakinan dalam sebuah budaya.